Sabtu, 06 September 2008

PREDIKSI DELEGITIMASI PILGUBRI (dimuat di Riau Pos Edisi 14/8/2008)

Pelaksanaan Pemilihan gubernur Riau (Pilgubri) tak berapa lama lagi. Jika tak ada aral yang menghadang, sedianya sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau, hari H (pemungutan suara) akan dilaksanakan pada 22 September. Namun, hingga saat ini, penulis merasa masih ada sesuatu hal yang mengganjal proses Pilgub ini. Terutama terkait proses mewujudkan nilai ideal berupa dukungan maksimal dari masyarakat Riau. Konkritnya, ini mengarah kepada seberapa besar partisipasi masyarakat dalam memilih pemimpin mereka ke depannya.

Menurut khazanah demokrasi, masyarakat adalah subjek. Sebagaimana Aristoteles pernah menyinggung pada karya magnum opus-nya La Politic, masyarakat dalam konteks demokrasi dapat diumpamakan seperti seorang pembuat seruling. Sedangkan pemerintah dan pemimpin mereka hanyalah peniup seruling. Sehingga, wajar jika kita sering mendapati slogan ditujukan dari, untuk dan oleh rakyat (Aristoteles, 2006). Konsekuensinya dari ide dan gagasan ini tentunya berlaku pada pembukaan akses sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam memilih siapa pemimpinnya. Namun, ketika kita mengarahkan pandangan pada kontes kekinian, demokrasi tak lebih dari sekedar eufimisme yang sering latah diucapkan para politisi tak bermoral. Tujuannya, tentu saja demi menggapai tujuan pribadi.

Kembali ke pokok persoalan, jika kita melihat persiapan dari Pilgubri itu sendiri, ada sesuatu yang pantas untuk dikhawatirkan. Ini dikarenakan kuatnya sinyalemen probabilitas akan semakin rendah partisipasi masyarakat untuk memberikan suaranya. Melihat dari data yang dimiliki KPU Riau, berdasarkan Data Pemilih Tetap (DPT) yang telah ditetapkan, jumlah pemilih yang terdaftar adalah sebanyak 3,219,478 pemilih –data ini masih belum final, dikarenakan belum adanya keputusan soal sengketa di lima desa yang melibatkan Kabupaten Rokan Hulu dan Kabupaten Kampar. Jumlah ini berkurang jika dibandingkan dengan data di KPUD untuk tahun 2007, dengan jumlah pemilih yang terdaftar adalah sebanyak 4,525,391 pemilih. Secara eksplisit ada selisih jumlah yang cukup signifikan dengan pemilih untuk Pilgubri 2008, dimana terdapat 1,319,542 pemilih. Apakah selisih ini di dalamnya pemilih yang tak mendapatkan lagi haknya karena beberapa sebab: meninggal dunia, pindah atau lain-lainnya,wallahualam. Terlepas dari itu semua, ini sebuah selisih jumlah yang jauh dari harapan untuk Pilgubri 2008 yakni berupa peningkatan jumlah pemilih. Terlebih apabila didasarkan pada jumlah masyarakat Riau sendiri berdasarkan data penduduk saat ini berjumlah 4,792,520 jiwa.

Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam memilih di Pilgubri nantinya, secara langsung akan mempengaruhi dukungan terhadap pemimpin Riau ke depannya. Adapun yang berpotensi untuk dipersalahkan ketika partisipasi tersebut rendah, tentu saja perangkat-perangkat baik dalam penyelenggaran Pilgubri itu sendiri maupun yang turut serta. Seyogyanya, setiap pribadi masyarakat yang sudah memenuhi kriteria untuk memilih memperoleh haknya sebagaimana mestinya. Namun keseringan yang terjadi sekarang, akses untuk memperoleh itu cenderung dihalang-halangi dengan berbagai dalih administratif yang tampak dibuat-buat oleh pihak-pihak terkait. Bahkan salah satu kasus, di daerah penulis menetap, pernah salah seorang ketua RT tidak memberikan kartu pemilih dengan alasan yang tak masuk akal. Padahal, secara administratif dan kriteria sudah dipenuhi semua.

Politisasi Suara Rakyat

Hal yang tak termaafkan lainnya yang kerap kali mewarnai proses demokrasi, adalah politisasi suara rakyat. Tak terkecuali dalam penyelenggaraan Pilgubri kali ini. Salah satu contoh terdekat dan riil adalah pada kasus sengketa di 5 desa (Desa Intan Jaya, Muara Intan, Rimba Makmur, Rimba Jaya dan Tanah Datar) yang melibatkan dua kabupaten yang saling berbatasan yakni Rohul dan Kampar yang hingga saat ini masih konfrontasi. Lebih dari persoalan laten, yakni perbatasan –sebagaimana yang ramai dipeributkan- sengketa di 5 desa mempunyai vested interest lain. Malah gamblang, bahwa sengketa ini lebih pada sengketa antara elit Pemerintah daerah daripada masyarakatnya. Buktinya, dari hasil laporan tim bentukan KPU Riau yang diterjunkan untuk meneliti secara langsung di 5 desa pada 11-16 Juli 2008, diperoleh temuan bahwasanya sebagian besar masyarakat tak mempersoalkan kabupaten mana yang akan ditunjuk.

Dengan begitu, tak heran mengapa perdebatan soal sengketa ini menjadi hangat kembali belakangan dan menjelang Pilgubri ini. Asumsinya hanya satu, persoalan siapa yang punya kepentingan. Relevansinya dengan Pilgub, berdasarkan informasi yang diperoleh baik dari rekan pers dan masyarakat tempatan, jelas ini terkait dengan perolehan suara pemilih atau masyarakat nantinya. Dalam perkembangan terkini terkait penyelesaian sengketa 5 desa ini belum menunjukkan arah penyelesaian yang jelas. Masing-masing pihak keukeuh dengan solusinya. Dari sekian banyak solusi yang ditawarkan, yang tampak baru sekumpulan kamuflase politik semata.

Delegitimasi

Sejauhmana relevansi jumlah dukungan masyarakat terhadap legitimasi si pemimpin dalam proses demokrasi, yang salah satunya pada pemilihan kepala dan wakil kepala daerah? Menurut hemat penulis tentu sangat berelevansi. Soal sejauhmana, hal ini dapat dilihat pada keterdukungan masyarakat saat Gubernur terpilih menjalankan amanahnya. Semakin banyak masyarakat yang menyerahkan suaranya terhadap pemimpinnya, maka aksiomatis dapat dikatakan si pemimpin mempunyai nilai potensial untuk lebih dapat meyakinkan pemilihnya berupa komitmen program-program kerjanya direalisasikan. Begitu juga, logika sama yang sama berlaku ketika pemilih salah seorang calon sedikit.

Bersinergi dengan pandangan di atas, ilmuwan sosial barat Wayne Parsons Pada bukunya yang berjudul Public Policy, telah menjabarkan bahwa ketika sebuah sistem tidak didukung dari lingkungan primernya (intra societal environment) maka berkemungkinan besar sistem tersebut akan terganggu hingga pada level dimana posisinya bahkan bisa stagnasi (Parsons, 2004). Dengan demikian, sekali lagi, faktor rendah atau tingginya partisipasi masyarakat akan mempengaruhi jalannya sebuah pemerintahan yang lahir dari proses Pilgub ini nantinya. Dan, tidak hanya terhadap pemimpin dan pemerintahan yang terpilih saja akan mengalami delegitimasi, namun sebelum itu, juga pada Pilgubri ini.

Yuda Indra, S.I.Kom, Kepala Departemen Kebijakan Publik, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Riau


Minggu, 31 Agustus 2008

Bismillah


Ramadhan....
ini adalah bulan penuh rahmat,,,,
tiada kata terbaik yang dapat kita ucapkan selain dzikir kepada Allah SWT
harapan kita jelas, menjadi orang yang bertaqwa....
disini ada muatan muroqobatullah, muahadah, mujahadah,,,
hati yang kering harus segera dibasahi dengan kembali ke jalanNya..
tiada kebanggaan, kemuliaan, kehormatan bagi seorang muslim ketika di tidak lagi di Jalan Allah SWT,,,,
MARI SALING MENDO'AKAN, berbagi dalam kebaikan, semoga Ramadhan ini lebih baik dari sebelumnya...

Rabu, 20 Agustus 2008

Aksi Kuat, Ibadah Taat, Prestasi Hebat






Dan katakanlah (Wahai Muhammad): "Beramallah kamu (akan segala yang diperintahkan), maka Allah dan RasulNya serta orang-orang yang beriman akan melihat apa yang kamu kerjakan dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui perkara-perkara yang ghaib dan yang nyata, kemudian Ia menerangkan kepada kamu apa yang kamu telah kerjakan."( at-taubah 105)



Aksi Kuat, Ibadah Taat, Prestasi Hebat. Ini adalah motto dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Kata-katanya singkat, padat dan sarat makna. Siapa yang tidak tertarik untuk mewujudkan motto yang di gadang-gadangkan ini. Demikian juga halnya saya, saat pertama sekali mengenal organisasi ini, terpesona!, benarkah ketiga untaian permata ini bisa dipadukan? Orang bijak bilang "hendak mengetahui luasnya laut, berlayarlah..!!!". Maka saya ceburkan jiwa dan raga kedalam dunia yang sama sekali asing bagi saya pada awalnya. Walhasil, Subhanallah ini adalah salah satu wasilah(wadah) yang menyentak kesadaran saya, hingga akhirnya saya merasakan nikmatnya menjadi manusia yang termanusiakan.

Aksi Kuat, bukan demonstrasi (aksi massa turun kejalan) semata. Tapi ada 1001 aksi positif lainnya yang bisa dilakukan. Misalnya, demo masak, unjuk soft skills, dst. Ibadah Kuat, bukan berarti dinomor duakan karena di posisi kedua, sebaliknya ini adalah urusan utama kita. Hanya dengan menjaga hubungan denganNya kita menjadi mungkin untuk menjaga hubungan baik dengan semua makhlukNya yang lain. Muatan muroqobatullah (pengawasan Allah) harus terjaga. Menjaganya dengan cara melestarikan amalan-amalan sunnah, sehingga kita dikuatkan untuk menjaga perintah-perintahNya yang wajib. Prestasi Hebat, didapatkan oleh orang-orang yang mencintai proses. Prestasi hebat bagi kader KAMMI yang baik adalah ketika mampu merasakan perubahan ke arah psositif menurut perspektif rabbaniyyah, bukan syahwat dan syubhat pribadinya. Prestasi adalah rangkaian amal salih yang kita lakukan dalam mengisi lembaran hari demi hari yang akan dipertanggungjawabkan. Inilah perintah yang di turunkan oleh Allah dalam firmanNya surat at-taubah ayat 105, yang tertera diawal tulisan ini. Allahua'lam....

Alfajri, Sekretaris Umum KAMMI DAERAH RIAU 2005-2006.

"Pancasila Tidak Membentuk Karakter Pribadi yang Pancasilais"

Bahana Mahasiswa-Desember 1998

Bincang-bincang Bersama

Dian Sukheri: Ketua Umum KAMMI Daerah Riau 1998-2000


Sejak Pancasilaa diterapkan sebagai ideologi dan alas tunggal bag Orsospol dan Ormas.di negeri ini,,berbagai masalah muncul. Mulai dari tragedi Tanjung Priok, Haur Koneng,.Peristiwa Lampung, pecahnya HMI, NU dan PPP serta terkooptasinya ummat Islam. "Telah ribuan nyawa melayang sebagai tumbal diterapkannya Pancasila sebagai azas tunggal," kata Dian sukheri; Ketua Umum KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Daerah Riau.

Selain itu, penerapan Pancasila sebagai asas tunggal jugs telah dimanfaatkan oleh Rezim Soeharto untuk mempertahankan kekuasaannya. Bagaimana-posisi Pancasila dalam konstitusi dan dalam upaya demokratisasi? Bagaimana pelaksanaan BP7 dan P4, serta apa solusinya setelah penataran P4 dihapuskan? Ikuti pandangan Dian Sukheri yang juga mantan Ketua Umum UKM Rohis Unri ini kepada Ridho Muhajir, NZ, dan Doni Fajri dari Bahana Mahasiswa dengan mahasiswa Fisipol kelahiran Batu Rijal, 2-September 1975.

Kenapa pada 5 November lalu, KAMMI Riau melakukan demonstrasi menuntut pencabutan Pancasila sebagai asas tunggal?

Masalah asas tunggal kalau kita lihat setelah bergulirnya reformasi, merupakan agenda utama yang harus dikerjakan oleh bangsa. Agenda remformasi terpenting dalam skala ununat Islam di Indonesia yang mayoritas, salah satunya adalah penghapu­san asas tunggal bagi organisasi massa atau pun partai politik. Karena salah satu dari sekian banyak penyebab dari terkooptasinya atau termarjinalisasinya ummat Islam dari peran politik di kancah nasional adalah asas tunggal.

Karena itu, kalau masih saja ada upaya sepertini di negara yang ingin menerapkan sistem dcmokratisasi yang baik, maka akan sulit kita menginginkan hal itu. Ini hukan semacam hal yang emosional atau hanya ingin mencari perhatian, tapi sudah merupakan suatu agenda mendesak ummat Islam Indonesia.

Bukti terkooptasinya Umat Islam dengan penerapan asas tunggal itu apa?

Sejarah telah mencatat beherapa kasus besar sampai saat sekarang belum terungkap. Kita ketahui kasus Tanjung Priok yang menghabisi nyawa ratusan umat Islam, kasus Lampung, kemudian di Haur Koneng, itu adalah suatu reaksi dan tanggapan dari kaum Muslimin atas diterapkannya asas tunggal, semua itu merupakan sesuatu yang harus kita bayar mahal dari perjuangan yang kita lakukan untuk menentang asas tunggal agar tidak diterapkan. Itu baru dari sisi umat Islam yang terbunuh.

Kemudian , dari sisi lain, kita lihat peranan organisasi sosial-politik juga mulai terkooptasi seperti pecahnya HMI, karena asas tungal.. Kemudian Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga pecah. Nahdatul Ulama (NU) juga pecah akibat penerimaan mereka terhadap azas tunggal yang dipaksakan rerim orde baru. Nah, sekarang kalau itu juga masih diterapkan herarti kita masih in-in mengulangi sejarah masa lalu yang sangat kelam.

Anda pernah mengatakan Pancasila sebagai ideologi tidak sesuai lagi dengan bangsa Indonesia. Apanya yang tidak sesuai?

Pancasila kalau kita jadikan sabagai satu­-satunya asas ini yang mungkin perlu dicermati. Kita mengakui Pancasila scbagai dasar negara, dan ummat Islam menghargai perjuangan yang dilakukan oleh orang­-orang yang meletakkan dasar-dasar negara ini sebagai pilar berdirinya negara. Tetapi ketika ummat Islam dipaksa untuk menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas, ini memberikan dampak psikologis.

Di satu sisi dikatakan Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, tetapi justru menciptakan suatu kondisi di mana Islam bertentangan dengan Pancasila. sehingga ketika ada orang yang membentuk suatu organisasi atau kekuatan politik yang mengunakan asas Islam, mereka dianggap bertentangan dengan negara, dianggap militan dan fundamentalis. Jadi, ada tekanan psikologis sehingga kesannya Islam itu bertentangan dengan Pancasila, dan itu yang tidak kita inginkan. Padahal Islam tidak bertentangan dengan Pancasila

Jadi, dengan perlakuan pemerintah yang terkesan menekan itu, Islam terkesan itu bertentangan dengan Pancasila, berarti pemerintah menempatkan Islam dan Al Qur’an berada di bawah Pancasila?



To Continued.............

Selasa, 19 Agustus 2008

IZINKAN AKU BERTUTUR 10


Bismillahirrahmanirrahiim

Siapakah Yang Layak Dijadikan Teman ?

( Refleksi buku syaikh yusuf al-Qaradhawi yang berjudul :

“ Syaikh al-Ghazali Kamaa Araftuhu : Rihlatu Qarnin “)

Pernahkah engkau wahai sahabat berpikir untuk menjadi orang biasa saja ? Disaat beban datang begitu bertubi-tubi. Tekanan menambah kesesakan di dada. Pernahkah engkau ingin menjadi orang biasa saja ? Tinggal di tempat yang hijau, dekat dengan sebuah oase yang subur ? lalu menikmati kehidupan yang bahagia tanpa gangguan seorang pun? Menikmati hembusan semilir angin setiap pagi dan sore. Menyambut sinaran mentari yang hangat tetapi tidak membakar. Langkah indahnya. Bahagia. Inilah yang pernah diungkapkan oleh seorang sahabat sepulang dari perang tabuk. Namun Syurga lebih indah dari semua itu. Yah syurga lebih indah dari semua itu. Syurga berada di bawah kilatan pedang.

Kadangku membayangkan bagaimanakah syurga itu ada di bawah kilatan pedang. Imajinasiku bermain dan seakan semua itu tergambar dengan jelas dihadapan mataku. Pemandangan permainan pedang yang indah. Menampakkan kilatan-kilatan cahaya dan percikan bunga api. Indah sekali.

Kita membutuhkan seorang teman, bahkan lebih dalam perjalanan panjang ini. Kita berjuang bersama bukan hanya untuk menghancurkan pasungan egoisme yang membelenggu kita. Agar jangan merasa kokoh dengan kesendirian kita. Karena kita dapat berbuat apapun sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan kita inginkan. Tapi ingatlah wahai para saudara seperjuangan.Kita hanya akan berjalan di tempat saja. Seperti seekor keledai yang sedang memutar penggilingan gandum atau penggilingan tebu. Apakah engkau bisa membayangkannya.

Karena selain sebagai seorang hamba yang terikat dengan ketentuan 4JJI kita juga adalah makhluk sosial. Kalau kita berputar hanya di suatu tempat sampai membuat tempat yang kita buat pijakan menjadi becek dan berlumpur. Sesungguhnya kita tidak kemana-mana. Walaupun keringat sudah membanjir dan engkau merasakan sudah melakukan perjalanan panjang. Engkau masih jalan di tempat. Pengetahuan kita tidak sebanding dengan pengetahuan 4JJI. Rasa pengangungan kepada 4JJIlah yang akan membuat jiwa kita didomonasi oleh ketenangan berada di hadapan 4JJI. Beribadah untuk-Nya seperti apa yang disebutkan oleh Abu Faras :

Biarlah Engkau Bahagia

Sekalipun kehidupan ini begitu pahit

Biarlah Engkau Ridha

Sekalipun semua orang marah

Biarlah antara Aku dan Engkau ada kemesraan

Sekalipun saya dan lainnya berjauhan

Asalkan Engkau cinta

Maka segala sesuatunya akan enteng

Dan segala sesuatu yang ada di bumi adalah debu

Kalau mendapatkan seorang teman dalam perjuangan ini ingatlah apa yang diungkapkan oleh syair Hatim at –Thayib berikut ini :

Bila anda mengendarai seekor Unta

Jangan biarkan kawan anda yang berada di belakang hanya bisa berjalan

Rendahkanlah untamu dan naikkan dia

Bila unta itu sanggup naikilah berdua

Bila tidak maka saling bergantianlah

Namun apabila engkau meragukan ketulusan seseorang tanyakanlah dengan bijak kepadanya dan berlemah-lembut seperti syair Mustaqib al-“abdi berikut ini :

Jadilah saudaraku dalam arti sesungguhnya

Sehingga aku bisa membedakan keburukanku dan kebaikanku

Bila tidak

Jauhilah aku dan jadikan aku musuhmu

Sehingga aku mewaspadaimu

Dan engkau mewaspadaiku

Manfaat seorang teman adalah memberikan pilihan di saat kita membutuhkannya. Walaupun yang mereka berikan itu bukan pemecahan masalah, tetapi itu membuat kita berpikir untuk menyelesaikan suatu masalah.

Jadi teman bukanlah setiap orang yang sepakat dengan apapun yang kita inginkan. Itulah seorang teman yang sejati. Orang yang selalu dapat mengingatkan kita di saat lupa. Teman sejati adalah orang-orang yang mengingatkan kita bahwa kita adalah hanya manusia biasa. Bahwa kita semua adalah hamba.

Siapa yang sepakat silahkan saya tidak memaksa. Siapa yang tidak sepakat tidak mengapa karena saya dan anda adalah orang-orang yang sedang mencari siapakah yang layak untuk dijadikan teman. Sehingga saling belajar untuk saling memahami. Tulisan ini adalah hanya sekedar hasil perenungan. Dan refleksi setelah saya membaca buku syaikh yusuf al-Qaradhawi yang berjudul : “ Syaikh al-Ghazali Kamaa Araftuhu : Rihlatu Qarnin “ ( ini judul aslinya : siapa yang ingin baca ada kok yang edisi Indonesia) Ini adalah tulisan apa adanya. Jadi marilah jangan hanya berpikir ingin jadi orang yang biasa-biasa saja. Wallahu ‘alam.

Abu Jundii ( HUD-HUD) Rumah kebahagiaan 08 Syawal 1425 H/

21 November 2004 M Ahad 10.40 WIB

IZINKAN AKU BERTUTUR 09


Bismillahirrahmanirrahiim

Puasa Sebagai Sarana Tarbiyah Untuk Mencapai Pribadi yang sabar

( Refleksi Acara Ifthor Jama’I di komisariat UIN Sabtu 25 Oktober 2004 )

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “ Tuhan kami adalah 4JJI,” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka , maka malaikat akan turun kepada mereka ( dengan mengatakan) : “ janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih ; Dan bergembiralah kamu dengan ( memperoleh ) sorga yang telah dijanjikan 4JJI kepadamu ( Q.S 41 Al-Fushshilat : 30)

Alhamdulillah. Ada perasaan gembira dan Roja’ (harapan yang besar) di saat kita dapat menjalani kegiatan ibadah di bulan Ramadahan. Sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada 4JJI dan mentarbiyahdiri kita untuk menghilangkan berbagai sifat yang buruk dan jahil dari kita. Dimana 4JJI SWT melipatgandakan nilai pahala pada bulan mulia ini. Yang mana ibadah sunnah disetarakan dengan amalan wajib. Dan amalan wajib dilipatgandakan sampai 70 derajat.

Namun, kita juga sedang berada dalam keadaan yang berduka, haru dan Khauf (ketakutan yang mendalam) karena tindakan zhalim orang-orang yahudi, nasrani salibis dan orang-orang musyrik terhadap sesama muslim dibelahan bumi yang lain. Palestina, Irak, Bahkan Thailand serta Bumi Islam yang membara lainnya. Semoga kesabaran memberikan hembusan angin yang melembutkan dan menentramkan perasaan dan melapangkan dada serta meluapkan semangat untuk selalu membela agama yang haq yaitu al-Islam yang mulia.Amien.

Sabar adalah kata yang sangat berat aplikasinya. Entah mengapa akhir-akhir ini saya sangat berkeinginan menuliskan semua apa yang saya dengarkan. Saya sangat berharap semua yang saya dengar juga dapat dinikmati oleh orang yang lain. Terutama sekali orang-orang yang saya cintai di jalan dakwah ini. Semoga semua yang saya tuliskan dapat menambah ladang amal, dianggap 4JJI sebagai amalan yang baik yaitu menyebarkan ilmu di hadapan para manusia. Amien.

Ayyuhal Ikhwah rahimakumullah.

Tidak dipungkuri lagi dalam pandangan kita sebagai kader dakwah bahwa tabiat seorang mukmin sejati adalah berbuat, berbuat dan terus berbuat. Sehingga seluruh waktunya selalu diukur dengan produktivitas amalnya. Ia tidak akan pernah diam karena diam tanpa amal menjadi aib bagi orang beriman. Seorang mukmin akan terus mencermati peluang-peluang untuk selalu berbuat. Maka perlu kita ingat dalam sanubari yang paling dalam bahwa 'nganggur' dapat menjadi pintu kehancuran. Tidaklah mengherankan banyak ayat maupun hadits yang memotivasi agar selalu berbuat dan berupaya untuk menghindari diri dari sikap malas dan lemah. Malas dan lemah berbuat dianggap sebagai sikap dan sifat buruk yang harus dijauhi orang-orang beriman. Jangan Pernah Lelah Beramal

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan

sungguh-sungguh (urusan) yang lain". (Q.S. Al Insyirah: 7)

Mengingat tugas dan tanggung jawab yang kita emban sangat besar dan masih banyak agenda yang menanti untuk diselesaikan maka segeralah untuk menyiapkan diri menunaikannya. Rasanya perlu dicamkan dalam benak pikiran kita akan nasehat syaikh Abdul Wahab Azzam:

'Pikiran tak dapat dibatasi, lisan tak dapat dibungkam, anggota tubuh tak dapat diam. Karena itu jika kamu tidak disibukan dengan hal-hal besar maka kamu akan disibukkan dengan hal-hal kecil'.

Sangat mudah untuk dipahami bila setiap waktu ada tuntutannya maka kita mesti menyelaraskan diri agar sesuai dengannya. Tuntutan ini selaras dengan amanah yang diembankan kepada kita saat ini. Dan dalam pandangan Islam setiap amanah merupakan sesuatu tugas yang tidak boleh dikhianati atau diabaikan hingga tidak dapat menunaikannya dengan baik. Inilah kesempatan emas bagi kita untuk mengukir ukiran terindah dalam hidup kita secara personal maupun kolektif agar kita mampu memberikan cermin indah bagi orang lain ataupun generasi berikutnya. Inilah saat yang tepat bagi kita mengukir prestasi. Pergunakanlah sebaik-baiknya agar kita memiliki investasi besar dalam dakwah ini.

Maka disaat itulah kita membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Bulan mulia ini adalah bulan tarbiyah. Tarbiyah untuk membentuk kesabaran yang paripurna. Ustadz Yusuf al- Qaradhawi pernah mengatakan :

“ Kesabaran dalam peperangan adalah keberanian

kesabaran dalam kesulitan adalah ketabahan

kesabaran dalam kekurangan adalah merasa cukup

kesabaran dalam kelapangan adalah kesyukuran ….

Ayyuhal Ikhwah rahimakumullah.

Orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “ Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un “ ( Sesungguhnya kami adalah milik 4JJI, dan sesungguhnya kami hanya kepada-Nya akan kembali) (Q.S al-Baqarah : 155-156)

Disaat musibah datang menerpa. Mimik airmuka segera berubah. Ada kegelapan bagaikan kepingan malam disana. Ada mendung seperti awan hitam yang menggantung. Seakan sebentar lagi kilat akan menyambar dan petirpun menggelegar di dalam jiwanya. Menyambut hujan airmata yang akan tertumpah ruah. Sehingga banjirlah dadanya dengan kesedihan. Terasa sempitlah dunia dengan segala isinya. Seakan sudah kehilangan segalanya.

Ayyuhal Ikhwah rahimakumullah

Maukah engkau merasakan dengan tenang, mengikuti dengan lembut sebuah perjalanan kehdupan manusia-manusia yang penuh kesabaran? Ada Rasulullah Muhammad Saw. ….!!! Bercerita tentang Muhammad Saw, bagai bercerita tentang samudera yang luas membentang. Bagaikan bercerita tentang langit dengan gugusan bintang-bintangnya.

Bagaikan bercerita tentang taman bunga dengan aneka kembang yang indah di dalamnya. Harum mewangi membawa kesegaran. Petiklah setangkai tempatkan di pajangan bunga jiwa sehingga mata hati kita menjadi tenang saat memandangnya, dengan penuh kerinduan untuk bertemu dengannya.

Perasaannya selembut angin pesisir yang semilir. Tubuhnya kokoh bagaikan batukarang di tengah hantaman ombak dan badai cobaan kehidupan. Kehidupan yang mulia dan penuh perjuangan. Kehidupan yang dihiasi birunya rindu dan hitam pekatnya kedukaan. Kehidupan yang penuh dengan kesabaran dan tawakkal. Betapa mempesonanya kalau kita bisa menyelami mutiara keindahan perilakunya. Ucapan dan sikapnya bagaikan air yang menghidupi tanah yang kering. Menumbuhkan bibit-bibit pengharapan. Membawa buah keberkahan dan cinta. Sehingga sampai melewati batas waktu dan keturunan.

Pernah Umar Ibnu Khattaab dan beberapa sahabat menunggunya di suatu tempat. Ia menangis tersedu-sedu. Lupa dengan keadaan sekelilingnya. Sehingga angin seakan diam melihatnya. Pasir-pasir muram karenanya. Tumpah ruah airmatanya. Para sahabatnya seakan tidak percaya, seorang panglima yang gagah itu menangis. Muhammad menghapus airmatanya lalu menghampiri para sahabatnya yang telah lama menunggunya.” Mengapa engkau menangis! “Tanya umar penuh curiga. “ Sehingga sampai-sampai kami ketakutan dan ikut menangis pula.” Sambut Umar sambil mengusap airmatanya.

“Kalian takut mendengar tangisanku?” para sahabat mengangguk dengan serta merta. “Itulah makam ibuku, aku sangat mencintainya.” Kehilangan dan kerinduan terhadap orang yang kita cintai boleh saja. Tapi jangan sampai merusak jiwa. Karena itu adalah kewajaran sebagai seorang insan yang lemah. Namun setelah itu Rasulullah tampak sangat ganas kepada musuh-musuhnya bagaikan badai dengan gelombang yang menggulung. Disinilah terletak jejak-jejak kesabaran itu. Akan meninggalkan guratan keindahan ukirannya bagi tapak sejarah kehidupan. Kehidupan dalam perjalanan panjang perjuangan, menyusuri jalan yang mendaki, berduri dan berat. Wallahu’alam

Abu Jundii ( HUD-HUD) Markazud Jihad 23 Ramadhan 1425 H/

6 November 2004 M Sabtu 16.00 WIB

Partisipasi Publik


(Refleksi 223 Tahun Kota Pekanbaru)

Oleh : Effendi Muharram Ketua Umum KAMMI Daerah Riau 2006-2008

Kehidupan demokratisasi yang sehat menjadi harapan paling realistis bagi bangsa ini ketika 9 tahun yang lalu tepatnya 21 Mei 1998, Presiden Soeharto lengser ke prabon. Gegap gempita bersahutan dari seluruh rakyat Indonesia menyambut fajar baru : Reformasi. Apa yang paling diharapkan dari hadirnya demokratisasi yang sehat? Salah satunya adalah partisipasi publik di semua level kebijakan.

Partisipasi yang dimaksud adalah membangun relasi antara pemerintah dengan masyarakat; Membangun keterbukaan dan responsivitas pemerintah serta mengikutsertakan publik dalam pembuatan kebijakan dan penyediaan layanan kepadanya. Pentingnya partisipasi publik dalam mengendors pemerintahan yang kredibel dan dicintai rakyat telah menempatkannya pada urutan pertama diantara 15 variabel lainnya yang dianggap penting oleh UNDP dalam menciptakan pemerintahan “rakyat”.

Secara sederhana kita mengenal tiga pelaku dalam tata kelola pemerintahan yaitu negara atau public sector, wiraswasta atau bussines sector dan masyarakat atau civil society. Ketiga sektor ini merupakan satu kesatuan yang integral, meski secara tanggung jawab dan hak otoritas, negara/pemerintah memainkan peran paling penting dan menentukan. Di era semuanya serba dipilih langsung, keterlibatan publik atau masyarakat tidak hanya sebatas itu (memilih) namun dalam proses menjalankan roda pemerintahan sebaiknya keterlibatan masyarakat haruslah senantiasa dihidupkan.

Mengapa Partisipasi

Pertama, Pada level operasional dan praktek, kemitraan akan bekerja paling baik jika berlangsung diantara institusi (pemerintah) dengan kelompok masyarakat yang terorganisasi dan melembaga. Interaksi keduanya akan membangun pola komunikasi yang efektif guna menerjemahkan kebutuhan masyarakat dalam mendayagunakan sumber daya-sumber daya pembangunan. Kedua, dapat menghindari kondisi dimana sebagian besar masyarakat (terutama kelompok marginal) yang hanya menjadi penonton dalam pembangunan. Dengan adanya mekanisme partisipatori, kelompok marginal yang kontraproduktif dapat dimobilisasi dan masalah distribusi sumberdaya yang tidak merata dapat terselesaikan melalui kerjasama dari banyak pihak. Ketiga, Partnerships harus dilengkapi dengan mekanisme mengarusutamakan (mainstreaming) kelompok marginal dan mengaktifkan mereka dalam tata kelola pemerintahan.

Menurut Nashir Fahmi (2006), demokrasi memiliki titik temu nilai yang paling mendasar dengan kultur masyarakat modern yaitu pada konsep partisipasi. Konsep ini memberikan posisi kuat kepada masyarakat terhadap negara/pemerintahan dan mengunggulkan akal kolektif atas akal individu. Pemberdayaan masyarakat terhadap negara berbasis pada nilai-nilai kebebasan dan hak-hak asasi manusia, sedang keunggulan akal kolektif berbasis pada upaya mengubah keragaman menjadi sumber kekuatan, kreativitas dan produktivitas. Karena itu, demokrasi mempunyai implikasi kuat terhadap proses pemberdayaan dan partisipasi masyarakat.

Pemerintahan Partisipatori

Pemerintah seharusnya tidak memandang setiap aktifitas partisipasi masyarakat dengan rasa cemas dan apriori, dengan berdalih diboncengi oleh kekuatan politik tertentu dengan tujuan sempit untuk sekedar melahirkan instabilitas jalannya roda pemerintahan. Dalam konteks pemerintahan yang bersih, tidak lagi penting sebuah ide dan gagasan itu terlahir dari mana, namun yang terpenting substansi dari ide dan gagasan itu harus bermuara pada perbaikan dan kesejahteraan publik. Setidaknya ada beberapa hal yang mesti disugesti pemerintah bahwa Pertama, Partisipasi membantu pemerintah (daerah) dalam memaksimalkan sumberdaya yang dimiliki. Kedua, Partisipasi mengurangi potensi konflik sebelum pembahasan kebijakan/program masuk ke Pemda. Ketiga, Partisipasi memperkuat kepercayaan (legitimasi) terhadap pemerintah. Keempat, Partisipasi memberi keyakinan akan kontinuitas perencanaan meskipun terjadi perubahan kepemimpinan.

Selain itu juga, partisipasi membantu dalam identifikasi masalah, isu, kebutuhan dan fokus perhatian secara akurat; identifikasi program dan proyek/kegiatan yang tepat, identifikasi kegiatan legislatif yang diinginkan secara tepat sehingga tidak terkesan tebar pesona dan sekedar menghabiskan anggaran; membangun dukungan stakeholders dan ownership dari agenda eksekutif-legislatif

sehingga tidak lagi berorientasi pada politik kekuasaan (dagang sapi) namun pada politik pelayanan.

Pemerintah sebagai mandataris masyarakat, sudah saatnya tidak menyikapi setiap bentuk partisipasi dari kelompok masyarakat dengan cara apriori, penuh kecurigaan dan kekerasan. Secara singkat saya ingin mengatakan bahwa model pendekatan otoritarian selama ini justru membuat citra pemerintah jatuh dan terpuruk. Pada titik nadir terbawah akan mengarah pada delegitimasi. Kecemasan dan kecurigaan seperti itu tidak pada tempatnya. Pemerintah pada skala apapun harus menunjukkan sebagai pelayan masyarakat, berjiwa besar dan bersikap negarawan. Oleh sebab itu, kita dapat meyakini bahwa tuntutan terhadap demokrasi yang kian marak dewasa ini mendapatkan resistensi dan hambatan bukan dari rendahnya tingkat partisipasi masyarakat melainkan dari para pemimpin yang ingin mempertahankan status quo dengan cara mematikan partisipasi rakyat.

Pada tataran konstitusi, sebenarnya setiap masyarakat telah memiliki legitimasi untuk tidak lagi takut untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan/pengambilan kebijakan. Payung hukum ini telah diakomodir pada

Pasal 53 UU No. 10 Tahun 2004 : “ Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah”. Beberapa daerah justru memfasilitasi dan menguatkan peran masyarakat ini kedalam Peraturan Daerahnya. Sebagai contoh : Perda No. 6/2004 Kab. Lebak tentang Transparansi dan Partisipasi dalam Penyelenggaraan Pemerintah dan Pengelolaan Pembangunan, Perda No. 3/2004 Kab. Gowa tentang Transparansi Penyelenggaraan Pemerintahan, Perda No. 5/2004 Kab. Solok tentang Transparansi Penyelenggaraan Pemerintahan dan Partisipasi Masyarakat, Perda No. 10/2004 Kab. Magelang tentang Mekanisme Konsultasi Publik, Perda No. 3/2002 Kota Gorontalo tentang Transparansi Penyelenggaraan Pemerintahan, Perda No. 14/2003 Kota Kendari tentang Kebebasan memperoleh Informasi, Perda No. 5/2003 Kota Probolinggo tentang Partisipasi.

Seingat saya, di Kota Pekanbaru tercinta pernah ada usaha dari berbagai kekuatan kelompok masyarakat untuk memperjuangkan pembuatan Perda Transparansi Pemerintah, bahkan hingga pada tahapan telah mampu membuat tawaran draft. Namun tanpa alasan yang jelas, ditolak mentah-mentah oleh pemerintah (eksekutif). Bukankah Pekanbaru sebagai ibu kota Propinsi Riau sudah seharusnya menjadi perintis dalam penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis?

Mekanisme Pemerintahan partisipatori memang hanya bisa dijalankan ketika ada jaminan bahwa pemerintahan bersih dan menginginkan permberdayaan masyarakat dengan cara mengedukasi mereka. Dijelaskan apa yang menjadi hak dan kewajiban masyarakatnya. Sebab, Good Government dibangun minimal atas dua syarat yaitu masyarakat yang aktif dan Pemerintah yang Responsif, Transparan, dan Akuntabel.

Dalam sudut pandang masyarakat, ketika peran partisipasi dalam artian yang luas dan bertanggung jawab telah terselenggara maka pemerintah telah mendorong terwujudnya masyarakat yang cerdas. Selain mendapatkan umpan balik masyarakat atas kualitas dan kecukupan layanan publik, pemerintah juga telah berhasil mengkatalisasi publik untuk mengadopsi sikap mental yang pro aktif dengan meminta akuntabilitas, aksesibilitas dan responsifitas dari penyedia layanan publik.

Tahun ini usia kota kita telah cukup tua, semoga menjadi rumah kita bersama tempat kita berkarya. Menjadi masyarakat aktif dan bertanggung jawab serta menjadi pemerintah yang melayani rakyat. Dirgahayu Pekanbaru, semoga menjadi kota Cerdas.

Mari belajar dari lapangan……..

…..Bekerja bersama warga …..

…….Untuk Masa Depan yang Lebih Baik !!

*) Penulis adalah Ketua Umum

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia

(KAMMI) Daerah Riau

SPIRIT DAKWAH